Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Maret 2015

Aku akan tetap seperti ini, dingin dan kaku. 
Seperti katamu, aku cuek...tanpa beban. 
Aku tidak akan bersikap terlalu ramah. 
Mungkin terkesan tidak peduli. 
Seperti katamu....

Setiap tutur kataku mungkin menyakitkan. 

Seperti tidak berperasaan. 
Seolah tidak mengerti laki-laki. 
Sangat egois….
Tapi itulah aku...

Jumat, 12 Desember 2014

CINTA DIPENGHUJUNG NAFAS

Foto: CINTA DIPENGHUJUNG NAFAS

“Ya Allah sungguh perih penyakit yang kau titipkan pada hamba-Mu yang lemaah ini” lirihku pelan sambil tetap meneruskan mengetik dimeja kerjaku, sebisa mungkin kutahan rasa sakit ini dan terlihat baik didepan teman-teman kerjaku, agar tak ada yang mengetahui bahwa Aku sedang berjuang melawan rasa sakit ini. Namaku Naima, saat ini Aku sudah bekerja disalah satu perusahaaan penerbit buku sebagai salah satu penulis yang dianggap berbakat. Tiba-tiba telepon disampingku bordering, ya itu managerku yang memanggilku agar segera keruangannya.
Namun dalam langkah kakiku entah mengapa terasa berat dan sulit untuk ku gerakkan, hingga pada akhirnya Aku hmpir terjatuh kalau bukan Zaskia yang menahan tubuh yang semakin lemah ini,
“MasyaAllah, Nai. Wajahmu kok pucat sekali” cemasnya
“Aku baik-baik aja kok, Zas. Sukron ya”ucapku seraya kembali berjalan. Namun, rasa sakitku itu kembali menyerang kepalaku yang pada akhirnya membuatku hampir menjerit menahan sakit, tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan akupun tak ingat apa yang terjadi selanjutnya.
Perlahan-lahan Kubuka mataku seberkas cahaya pun masuk melalui kornea mataku. Suasana ruangan ini sudah tak asing lagi, ya ini rumah sakit kulihat Zaskia dengan wajah sembab yang kutahu dia baru saja menangis. Aku pun menyapanya, namun tangisnya kembali pecah. Akupun berusaha menghibur dan menguatkan sahabatku yang sangat Aku sayangi ini. Dan memintanya untuk tidak mengatakan perihal penyakitku kepada siapa-siapa termasuk orang tua serta kakakku yang selama ini kurasakan tak begitu memperdulikanku, dan Zaskia hanya mengangguk setuju.
Dengan langkah gontai Aku mengetuk pintu rumahku. Kutarik nafas dalam-dalam dan bersiap-siap, mendapat omelan Papa lagi. Namun malam itu sepertinya berbeda, suasana rumah tampak ramai, hingga untuk ketiga kalinya Aku mengetuk pintu barulah dibukakan oleh Lia, Kakakku. Diapun menyambutku dengan tersenyum hal yang sangat langkah kudapati. Akupun mengucapkan salam lalu masuk, pas diruang tamu Papa langsung bangkit ketika melihatku. Beliau begitu tenang tak ada sedikitpun tanda bahwa beliau akan memarahiku.
“Kok telat pulang, Nak?” tanyanya lembut
“Naima…Nai baru selesai ngerangkum novel ke-5, Pa. Makanya Nai telat” ucapku berbohong. Papa masih terlihat tenang dan tersenyum”Lain kali, kasih kabar dulu, Nak. Oh iya, ini ada keluarga Pak Yoga sahabat lama Papa. Mereka datang untuk melamar kakakmu”ucap Papa. Aku pun baru tahu kenapa Papa setenang itu, Aku pun berpaling dan kaget melihat pria itu. Ya dia Kak Yusril, sosok masa laluku yang sampai saat ini belum bisa kulupakan. Diapun sama kagetnya denganku, buru-buruku menunduk dan mengatupkan 
kedua tanganku demi menyapa mereka.
“Ini Naima ya, Tante ngak tahu ternyata kamu putri Pak Anwar juga” ucap Tante Mia. Aku tak pernah menyangkah beliau masih mengingatku,”kamu tampak semakin cantik ya sayang” pujinya
“Naima, kamu tampak pucat ada apa, Nak?”tegur Mama.
“Naima baik-baik aja, MA” kurasakan sesuatu yang hendak meleleh, kusentuh hidungku dan kaget karna Aku kembali mimisan. Kututup hitungku lalu pergi kekamarku menuju kamar mandi. Setelah kubuka kerudungku, Aku langsung menyiram kepalaku yang terasa panas. Kudengar pintu kamar mandi diketuk dan itu adalah Mama. Setelah yakin darah tak keluar lagi, akupun mengganti gamisku yang basah dengan baju mandi yang kugantung dipintu kamar mandi.
“Nai, ada apa, Nak? Apa kamu sakit?”seraya meraba keningku”Ya Allah, Nai. Badanmu panas sekali”
“Nai, Cuma kecapean Ma. Mama ngak usah kawatir ya.”
“ya sudah, kamu istirahat yang banyak ya, Nak. Mama turun dulu”
Akupun mengganti pakaian menggunkan piyama. Akupun segera menunaikan salat isya dalam doa tak henti-hentinya memohon agar Allah tetap memberiku ketegaran dan kesabaran. Selesai salat, Akupun beranjak kemeja tulisku dan meraih buku diaryku. Kutulis semua curahan hatiku dan juga tentang kak Yusril. Bertahun-tahun sudah aku berusaha melupakannya, namun sangat sulit. Andai saja wanita yang akan dinikahinya bukan kakakku, pastilah kutakkan terluka separah ini. Akupun sadar tak boleh berharap padanya, karena mengingat waktuku takkan lama lagi.
2 Minggu setela pertemuan antara 2 keluarga, dirumah pun tampak mulai ramai dikunjungi sanak keluarga. Akupun ikut sibuk mengurus segala keperluan Kak Lia, namun 2 hari menjelang hari sacral keduanya. Aku minta izin kepada Mama untuk kembali bekerja karena novelku yang akan segera diterbitkan dan Aku belum selesai mengetik ucapan terima kasihku.
Selesai meeting kerja, Aku kembali keruang kerjaku bersama Zaskia, yaa Zaskia tahu Aku sedang bersedih, mengingat tentang Kak Yusril yang akan segera menikahi Kakakku. Namun, tiba-tiba Aku terjatuh menabrak pintu ruang kerjaku. Ya Allah sakit itu kembali terasa, tubuhku mengigil kedinginan- sayup-sayup kudengar Zaskia menjerit histeriz dan panic, mataku berkunang-kunang dan semuanya gelap.
Sudah 2 hari Naima tak sadarkan diri, selama itu Zaskialah yang setia menemani sahabat yang sangat ia sayangi itu. Hp Naima pun bordering dan terlihat no.tak dikenal menghubungi. Dengan ragu Zaskia mengangkatnya, rupanya itu Kak Yusril. Betapa kagetnya Yusril karena yang mengangkatnya bukan Naima.
“Maaf, Kak. Ini memang no Naima. Tapi saat ini Naima krisis sudah 2 hari dia koma. Dan tak seorangpun keluarganya yang berusaha menghubunginya. Hingga Kak Yus menelpon”ungkap Zaskia, setelah mendapat Info tentang keberadaan Naima, Yusril pun langsung menuju rumah sakit tak peduli larangan Neneknya yang mengatakan pamali baginya keluar sebelum acara besok pagi.
Yusril pun tak habis pikir melihat sosok Naima, terbaring lemah dan tak berdaya dibantu dengan pelatan medis, Zaskia terus berdzikir sambil menggenggam tangan Naima. Yusril sangat heran sampai hatikah orang tua Naima tak mencari kabarnya setelah 2 hari tak pulang. Kebingungan Yusril terhenti ketika Hp Naima kembali bordering itu adalah Mama NAima. Zaskia pun meminta Kak Yusril yang berbicara. Dengan ragu Yusril menerimanya, suara Mama Naima terdengar lirih dan cemas dengan hati-hati Yusril pun memberitahukan kondisi Naima.
Mamapun histeris dan segera beranjak hendak menuju rumah sakit dengan dihantar oleh Papa dan Lia yang setengah mengomel kalau Naima hanya suka membuat mereka susah saja. Mamapun langsung memburu tubuh Naima yang terbaring dengan wajah sedih melihat putrid bungsunya terkapar tak berdaya.
“NAima mengidap kanker otak stadium 4 tante, Kia juga baru tahu 2 minggu yang lalu saat Nai pingsan dikantor. Kia pernah janji agar tak bilang kepada siapa-siapa. Tapi melihat kondisi Nai yang sekarang. Kia yakin NAi butuh keluarganya disampingnya” tangis Zaskiapun kembali pecah
“MAsyaAllah, betapa aku Ibu yang jahat…”tangis Mama pun ikut pecah. Papa yang selama ini keras dan acuh tak acuh pada Naima, akhirnya luluh dan merasakan kesedihan mendalam. Diapun teringat pernah berkali-kali menampar Naima jika ia telat pulang ataupun jika terjadi perselisihan antara dia dan Lia. Wajahnya pun terlihat kusut mengingat dirinya telah berlaku tak adil dalam hidup Naima.
Akupun mulai sadar dan melihat keluargaku berkumpul diruangan ini. Melihat kesedihan diwajah mereka Akupun berusaha tersenyum sebisaku. “Jangan bersedih Maaa, Paa, Kak… bukankah ,..ka..li..an se..nang bila Nai sudah tiada… de..ngan itu…ti.dak akan ada lagi.. yang.. buat kalian marah ..da..n ke..sal” ucapku dengan suara lemah dengan nafas yang berat. Mama menggenggam erat tanganku yang sudah sangat lemah. Begitu penuh kehangatan, mama mengusap wajahku yang pucat melihat air mata yang jatuh membashi pipi ini. “Sayang, kena..pa kamu… menyembunyikan ini semua, Nak…… Maafkan mama….. Maafkan mama yang selama ini mengabaikanmu….. Mama janji akan senantiasa merawatmu, Mama akan usahain supaya kamu bisa sembuh, Nak”tangisnya. Ya Allah begitu tulusnya ucapan Mama, maafkanlah hamba yang sudah membuat Mama hamba menangis ya Allah.
Papa pun mendekat lalu ikut menggenggam tanganku dengan suara serak ia mengucapkan maaf dan menyesali sikapnya kepadaku yang kubalas dengan gelengan kepala. Sungguh sakit melihat beliau menangis, bahkan mengalaahkan sakit ketika tangan kekar itu menampar wajah ini. Dengan nafas yang berat akupun memintanya berhenti menangis. Kak Yusril pun mendekat dan meminta ruang agar ia bisa lebih dekat lagi denganku. Papa pun berpindah tempat kesebelah kiri perbaringanku.
“Nai, kamu masih ingat masaa lalu kita kan, sungguh Aku tidak bisa melupakannya, ketika Umi memintaku untuk segera menikah aku ingin mencarimu. Tapi, aku sama sekali tak punya alamatmu, hingga Abi menawarkan agar aku menikahi anak sahabatnya, akupun menurut saja. Pertemuan malam itu ketika aku menyadari kau ternyata putrid bungsu sahabat papaku. Aku sedih, mengapa langkahku untuk menunaikan janjiku terhenti, untuk menjadikanmu kekasih yang halal tak tercapai, tapi perlu kau catat Nai. Aku slalu mencintaimu, sepanjang nafas ini” ungkapnya, Akupun menangis ternyata Kak Yusril pun masih menyayangiku. Kulihat wajah Kak Lia sangat kaget dengan pengakuan Kak Yusril, diapun memalingkan kepala tak berani menatapku. Kak Lia pun mendekat ketika Papa memintanya mendekat, Kugenggam tangan Kak Lia, dia pun mulai menangis. Aku kembali menatap Kak Yusril
“Kak, jaga Kak Lia ya, jadi…kan ia bida…da..ri hatimu.”ucapku. “Aku bersyukur dipenghujung hidup ini, keluar….ga… yang ku….rindukan… dan nan…tikan kini bera…da didekatku. Deng..an begitu Naima bisa tidur dengan tenang.”lirihku.
“kamu jangan bilang begitu Nai, Kamu harus kuat Nak. Kamu pasti sembuh sayaang”lirih Papa
Aku hanya menggelengkan kepala dan berusaha menguatkan beliau. Ya,Allah inikah saat kupergi. Aku menangis kutatap wajah waajah orng yang aku sayangi ini, dengan lirih aku mengucapkan kalimat Lailahaa Ilallah dan tersenyum hingga nafas ini berakhir, membawa cinta dari orang-orang yang senantiasa kucintai dan kini hanya bisa menangis melepas kepergianku.

=====================
+ ingin tampil cantik menggunakan tas yang cantik serta elegant hanya di Plaza Tas - Koleksi Tas Wanita Import Branded
PIN BB : 7F9A4128 
“Ya Allah sungguh perih penyakit yang kau titipkan pada hamba-Mu yang lemaah ini” lirihku pelan sambil tetap meneruskan mengetik dimeja kerjaku, sebisa mungkin kutahan rasa sakit ini dan terlihat baik didepan teman-teman kerjaku, agar tak ada yang mengetahui bahwa Aku sedang berjuang melawan rasa sakit ini. Namaku Naima, saat ini Aku sudah bekerja disalah satu perusahaaan penerbit buku sebagai salah satu penulis yang dianggap berbakat. Tiba-tiba telepon disampingku bordering, ya itu managerku yang memanggilku agar segera keruangannya.
Namun dalam langkah kakiku entah mengapa terasa berat dan sulit untuk ku gerakkan, hingga pada akhirnya Aku hmpir terjatuh kalau bukan Zaskia yang menahan tubuh yang semakin lemah ini,

“MasyaAllah, Nai. Wajahmu kok pucat sekali” cemasnya
 
“Aku baik-baik aja kok, Zas. Sukron ya”ucapku seraya kembali berjalan. Namun, rasa sakitku itu kembali menyerang kepalaku yang pada akhirnya membuatku hampir menjerit menahan sakit, tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan akupun tak ingat apa yang terjadi selanjutnya.

Perlahan-lahan Kubuka mataku seberkas cahaya pun masuk melalui kornea mataku. Suasana ruangan ini sudah tak asing lagi, ya ini rumah sakit kulihat Zaskia dengan wajah sembab yang kutahu dia baru saja menangis. Aku pun menyapanya, namun tangisnya kembali pecah. Akupun berusaha menghibur dan menguatkan sahabatku yang sangat Aku sayangi ini. Dan memintanya untuk tidak mengatakan perihal penyakitku kepada siapa-siapa termasuk orang tua serta kakakku yang selama ini kurasakan tak begitu memperdulikanku, dan Zaskia hanya mengangguk setuju.

Dengan langkah gontai Aku mengetuk pintu rumahku. Kutarik nafas dalam-dalam dan bersiap-siap, mendapat omelan Papa lagi. Namun malam itu sepertinya berbeda, suasana rumah tampak ramai, hingga untuk ketiga kalinya Aku mengetuk pintu barulah dibukakan oleh Lia, Kakakku. Diapun menyambutku dengan tersenyum hal yang sangat langkah kudapati. Akupun mengucapkan salam lalu masuk, pas diruang tamu Papa langsung bangkit ketika melihatku. Beliau begitu tenang tak ada sedikitpun tanda bahwa beliau akan memarahiku.

“Kok telat pulang, Nak?” tanyanya lembut

“Naima…Nai baru selesai ngerangkum novel ke-5, Pa. Makanya Nai telat” ucapku berbohong. Papa masih terlihat tenang dan tersenyum”Lain kali, kasih kabar dulu, Nak. Oh iya, ini ada keluarga Pak Yoga sahabat lama Papa. Mereka datang untuk melamar kakakmu”ucap Papa. Aku pun baru tahu kenapa Papa setenang itu, Aku pun berpaling dan kaget melihat pria itu. Ya dia Kak Yusril, sosok masa laluku yang sampai saat ini belum bisa kulupakan. Diapun sama kagetnya denganku, buru-buruku menunduk dan mengatupkan
kedua tanganku demi menyapa mereka.

“Ini Naima ya, Tante ngak tahu ternyata kamu putri Pak Anwar juga” ucap Tante Mia. Aku tak pernah menyangkah beliau masih mengingatku,”kamu tampak semakin cantik ya sayang” pujinya

“Naima, kamu tampak pucat ada apa, Nak?”tegur Mama.

“Naima baik-baik aja, MA” kurasakan sesuatu yang hendak meleleh, kusentuh hidungku dan kaget karna Aku kembali mimisan. Kututup hitungku lalu pergi kekamarku menuju kamar mandi. Setelah kubuka kerudungku, Aku langsung menyiram kepalaku yang terasa panas. Kudengar pintu kamar mandi diketuk dan itu adalah Mama. Setelah yakin darah tak keluar lagi, akupun mengganti gamisku yang basah dengan baju mandi yang kugantung dipintu kamar mandi.

“Nai, ada apa, Nak? Apa kamu sakit?”seraya meraba keningku”Ya Allah, Nai. Badanmu panas sekali”

“Nai, Cuma kecapean Ma. Mama ngak usah kawatir ya.”

“ya sudah, kamu istirahat yang banyak ya, Nak. Mama turun dulu”

Akupun mengganti pakaian menggunkan piyama. Akupun segera menunaikan salat isya dalam doa tak henti-hentinya memohon agar Allah tetap memberiku ketegaran dan kesabaran. Selesai salat, Akupun beranjak kemeja tulisku dan meraih buku diaryku. Kutulis semua curahan hatiku dan juga tentang kak Yusril. Bertahun-tahun sudah aku berusaha melupakannya, namun sangat sulit. Andai saja wanita yang akan dinikahinya bukan kakakku, pastilah kutakkan terluka separah ini. Akupun sadar tak boleh berharap padanya, karena mengingat waktuku takkan lama lagi.

2 Minggu setela pertemuan antara 2 keluarga, dirumah pun tampak mulai ramai dikunjungi sanak keluarga. Akupun ikut sibuk mengurus segala keperluan Kak Lia, namun 2 hari menjelang hari sacral keduanya. Aku minta izin kepada Mama untuk kembali bekerja karena novelku yang akan segera diterbitkan dan Aku belum selesai mengetik ucapan terima kasihku.

Selesai meeting kerja, Aku kembali keruang kerjaku bersama Zaskia, yaa Zaskia tahu Aku sedang bersedih, mengingat tentang Kak Yusril yang akan segera menikahi Kakakku. Namun, tiba-tiba Aku terjatuh menabrak pintu ruang kerjaku. Ya Allah sakit itu kembali terasa, tubuhku mengigil kedinginan- sayup-sayup kudengar Zaskia menjerit histeriz dan panic, mataku berkunang-kunang dan semuanya gelap.

Sudah 2 hari Naima tak sadarkan diri, selama itu Zaskialah yang setia menemani sahabat yang sangat ia sayangi itu. Hp Naima pun bordering dan terlihat no.tak dikenal menghubungi. Dengan ragu Zaskia mengangkatnya, rupanya itu Kak Yusril. Betapa kagetnya Yusril karena yang mengangkatnya bukan Naima.

“Maaf, Kak. Ini memang no Naima. Tapi saat ini Naima krisis sudah 2 hari dia koma. Dan tak seorangpun keluarganya yang berusaha menghubunginya. Hingga Kak Yus menelpon”ungkap Zaskia, setelah mendapat Info tentang keberadaan Naima, Yusril pun langsung menuju rumah sakit tak peduli larangan Neneknya yang mengatakan pamali baginya keluar sebelum acara besok pagi.

Yusril pun tak habis pikir melihat sosok Naima, terbaring lemah dan tak berdaya dibantu dengan pelatan medis, Zaskia terus berdzikir sambil menggenggam tangan Naima. Yusril sangat heran sampai hatikah orang tua Naima tak mencari kabarnya setelah 2 hari tak pulang. Kebingungan Yusril terhenti ketika Hp Naima kembali bordering itu adalah Mama NAima. Zaskia pun meminta Kak Yusril yang berbicara. Dengan ragu Yusril menerimanya, suara Mama Naima terdengar lirih dan cemas dengan hati-hati Yusril pun memberitahukan kondisi Naima.

Mamapun histeris dan segera beranjak hendak menuju rumah sakit dengan dihantar oleh Papa dan Lia yang setengah mengomel kalau Naima hanya suka membuat mereka susah saja. Mamapun langsung memburu tubuh Naima yang terbaring dengan wajah sedih melihat putrid bungsunya terkapar tak berdaya.

“NAima mengidap kanker otak stadium 4 tante, Kia juga baru tahu 2 minggu yang lalu saat Nai pingsan dikantor. Kia pernah janji agar tak bilang kepada siapa-siapa. Tapi melihat kondisi Nai yang sekarang. Kia yakin NAi butuh keluarganya disampingnya” tangis Zaskiapun kembali pecah

“MAsyaAllah, betapa aku Ibu yang jahat…”tangis Mama pun ikut pecah. Papa yang selama ini keras dan acuh tak acuh pada Naima, akhirnya luluh dan merasakan kesedihan mendalam. Diapun teringat pernah berkali-kali menampar Naima jika ia telat pulang ataupun jika terjadi perselisihan antara dia dan Lia. Wajahnya pun terlihat kusut mengingat dirinya telah berlaku tak adil dalam hidup Naima.

Akupun mulai sadar dan melihat keluargaku berkumpul diruangan ini. Melihat kesedihan diwajah mereka Akupun berusaha tersenyum sebisaku. “Jangan bersedih Maaa, Paa, Kak… bukankah ,..ka..li..an se..nang bila Nai sudah tiada… de..ngan itu…ti.dak akan ada lagi.. yang.. buat kalian marah ..da..n ke..sal” ucapku dengan suara lemah dengan nafas yang berat. Mama menggenggam erat tanganku yang sudah sangat lemah. Begitu penuh kehangatan, mama mengusap wajahku yang pucat melihat air mata yang jatuh membashi pipi ini. “Sayang, kena..pa kamu… menyembunyikan ini semua, Nak…… Maafkan mama….. Maafkan mama yang selama ini mengabaikanmu….. Mama janji akan senantiasa merawatmu, Mama akan usahain supaya kamu bisa sembuh, Nak”tangisnya. Ya Allah begitu tulusnya ucapan Mama, maafkanlah hamba yang sudah membuat Mama hamba menangis ya Allah.

Papa pun mendekat lalu ikut menggenggam tanganku dengan suara serak ia mengucapkan maaf dan menyesali sikapnya kepadaku yang kubalas dengan gelengan kepala. Sungguh sakit melihat beliau menangis, bahkan mengalaahkan sakit ketika tangan kekar itu menampar wajah ini. Dengan nafas yang berat akupun memintanya berhenti menangis. Kak Yusril pun mendekat dan meminta ruang agar ia bisa lebih dekat lagi denganku. Papa pun berpindah tempat kesebelah kiri perbaringanku.

“Nai, kamu masih ingat masaa lalu kita kan, sungguh Aku tidak bisa melupakannya, ketika Umi memintaku untuk segera menikah aku ingin mencarimu. Tapi, aku sama sekali tak punya alamatmu, hingga Abi menawarkan agar aku menikahi anak sahabatnya, akupun menurut saja. 

Pertemuan malam itu ketika aku menyadari kau ternyata putri bungsu sahabat papaku. Aku sedih, mengapa langkahku untuk menunaikan janjiku terhenti, untuk menjadikanmu kekasih yang halal tak tercapai, tapi perlu kau catat Nai. Aku slalu mencintaimu, sepanjang nafas ini” ungkapnya, Akupun menangis ternyata Kak Yusril pun masih menyayangiku. Kulihat wajah Kak Lia sangat kaget dengan pengakuan Kak Yusril, diapun memalingkan kepala tak berani menatapku. Kak Lia pun mendekat ketika Papa memintanya mendekat, Kugenggam tangan Kak Lia, dia pun mulai menangis. Aku kembali menatap Kak Yusril

“Kak, jaga Kak Lia ya, jadi…kan ia bida…da..ri hatimu.”ucapku. “Aku bersyukur dipenghujung hidup ini, keluar….ga… yang ku….rindukan… dan nan…tikan kini bera…da didekatku. Deng..an begitu Naima bisa tidur dengan tenang.”lirihku.

“kamu jangan bilang begitu Nai, Kamu harus kuat Nak. Kamu pasti sembuh sayaang”lirih Papa
Aku hanya menggelengkan kepala dan berusaha menguatkan beliau. Ya,Allah inikah saat kupergi. Aku menangis kutatap wajah waajah orng yang aku sayangi ini, dengan lirih aku mengucapkan kalimat Lailahaa Ilallah dan tersenyum hingga nafas ini berakhir, membawa cinta dari orang-orang yang senantiasa kucintai dan kini hanya bisa menangis melepas kepergianku.

Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir…


Kamis, 09 Oktober 2014

After All This Time I'm Still Jealous



Catatan Hati Yang Cemburu - Asma Nadia

Cinta, aku ingin tua bersamamu menatap anak-anak yang meneruskan jejak kita.tanpa perlu sesaat pun merasa khawatir hatimu pergi meninggalkanku 

Sumber : http://www.tokoasmanadia.com/non-fiksi/137-catatan-hati-yang-cemburu

Jumat, 26 September 2014

"Just Believe"

Allah tahu yang tersembunyi, tahu yang terlintas didalam hati.
Kasih sayang Allah tanpa tapi tanpa nanti.

Jumat, 12 September 2014

DO'A KHATAM QUR'AN (KANGEN PONDOK)

Allahummar hamna bil Quran
waj’alhu lana imaamau wa nuurau wa hudaw wa rahmah
Allahumma dzakkirna minhu maa nasiina
wa ’allimna minhumaa jahiilna
warzuqna tilaawatahu
aana al laili wa athrofannahar
waj’alhu lana hujjatan
Yaaa rabbal ‘alamiin



Ya Allah kasih sayangilah daku
dengan sebab AlQuran ini
Dan jadikanlah AlQuran ini
sebagai pemimpin
sebagai cahaya
sebagai petunjuk
dan sebagai rahmat bagiku
Ya Allah ingatkanlah daku
apa-apa yang aku lupa dalam AlQuran
yang telah Kau jelaskan
dan ajarilah apa-apa yang aku belum mengetahui
Dan kurniakanlah daku
selalu sempat membaca AlQuran
pada malam dan siang hari
Dan jadikanlah AlQuran ini
sebagai hujjah bagiku


Do'a ini selalu di lafalkan bersama2 ketika di pondok, selalu dan selalu meneteskan air mata setiap kali membaca nya.
Allahu Robbi, aku rindu kebersamaan itu ingin dan ingin balik lagi ke masa itu...

Kamis, 04 September 2014

Ya Rabb....kenapa sih akhir2 ini banyak kata-kata yang tidak sejuk di dengar
Ya Rabb....kali kedua ini benar2 menyakitkan, luka fisik mungkin tidak seberapa tapi luka karena kata2 nya membuatku enggan untuk mengenalnya lagi.

Astaghfirullohaladzim.
Ya Allah jauhkan dari aku dari segala gangguan syaitan dan mengangkat segala penyakit hati sekecil apapun itu.

Aamiin

Senin, 01 September 2014

Tentang Diri

Apalah beda duka dan bahagia saat semua merupakan wujud ujian dari-Nya?
Apalah beda tawa dan tangis saat keduanya mampu mengantarkan kita pada hikmah yang terbuka?
Apalah beda kaya dan miskin saat keduanya sama-sama tak beretika?

Berbeda? Sungguh tak ada beda. Kecuali pada sedikit rasa lahir yang membuat terlena.

Ada manusia yang sejak kecil tumbuh dari rasa cinta, setumpuk bahagia, serta dibalut segenggam jenaka. Tapi, ada pula manusia lain yang tumbuh dari pahitnya luka, dendam, duka, serta air mata.

Setiap manusia memang memiliki jatah suka dukanya sendiri, jatah lelah dan leganya sendiri. Tapi tak bisa dipungkiri, seringkali kita lihat sebagian manusia memang dibentuk dari lebih banyak cinta, sementara sebagian yang lain dibentuk dari lebih banyak luka, setidaknya dalam pandangan manusia.

Tapi pada akhirnya, Tuhan selalu menjadi pemenang. Keadilan dan kasih sayang-Nya tak pernah terbantahkan.

"Mengeluh tidak akan mengubah takdirmu, Bersyukur lebih baik"

Jumat, 29 Agustus 2014

Cinta Yang tulus


Cinta yang tulus di dalam hatiku
Telah bersemi karenamu
Hati yang suram kini tiada lagi
Tlah bersinar karenamu Ohh...

Biarkan hujan membasahi bumi
Atau bulan yang tiada berseri
Namun jangan kau biarkan cintaku
Yang tulus suci hanya padamu

Semua yang ada padamu ohh...
Membuat diriku tiada berdaya
Hanyalah bagimu untukmu tuhanku seluruh hidupku

Semua yang ada padamu ohh...
Membuat diriku tiada berdaya
Hanyalah bagimu untukmu tuhanku seluruh hidup & cintaku

Senin, 25 Agustus 2014

Allah Maha Baik

Yang aku tau ..Allah Maha Tahu, Allah Maha Baik ...Allah Maha yang Terbaik

Yang selalu aku syukuri...siapa pun dirimu
Seperti apa pun kamu, 
Seperti apa keimanan kamu pada Allah. 
Seperti apa kesungguhan kamu dalam mengamalkan Islam dalam kehidupan. 
Seperti apa kecintaan kamu pada Rasulullah. 
Seperti apa kamu memandang kehidupan akhirat di atas dunia. 
Seperti apa akhlaq-mu
Seperti apa kamu memandang perempuan dalam kehidupan ini
Seperti apa kamu memandang cita-cita
Seperti apa kamu mencintai anak-anak
Seperti apa kamu memaknai pendidikan dalam keluarga
Tapi aku selalu meyakini ini : 

“…perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)..”
(QS An Nuur 24:26)

Selanjutnya...berjuang untuk menjadikan diri ini bersungguh-sungguh dalam memperkuat keimanan kepada Allah, mencintai Rasulullah, menjadi muslimah yang tangguh yang mencintai anak-anak & terus memperjuangkan cita-cita untuk berbuat kebaikan serta ketaatan ...in sya Allah
Karena janji Allah itu Pasti.