Jujur aja, saya salut dan merasa kagum pada akhwat yang gigih ‘berjuang’ untuk bisa menutup wajahnya dengan niqab atau cadar.
Ada yang ngumpet-ngumpet, pas kajian pakai, begitu sampai dekat rumah dilepas.
Ada yang tiap keluar rumah diejek, dihina, dipandang dengan tatapan
seolah-olah ia adalah makhluk asing dari planet lain. Atau lebih
kejamnya lagi, istri teroris.
Ada yang dibilang bercadar hanya untuk menutupi wajahnya yang buruk atau cacat.
Ada yang butuh waktu bertahun-tahun untuk mendapat izin dari sang suami agar diizinkan bercadar.
Ada yang sampai cadar-cadarnya dibuang dan dibakar oleh orang tua yang belum paham tentang syari’at cadar.
Ada yang hanya bisa memandang dengan tatapan iri ketika saudari-saudarinya lewat di depannya dengan wajah yang tertutup rapat.
Ada yang terpaksa memendam keinginan mulia itu, dan terus berharap ia dapat mengenakannya sebelum kelak Allah memanggilnya.
There is a different woman, a different story, a different path behind that piece of cloth.
Banyak cerita di balik selembar kain penutup wajah itu. Ada yang
mulus, ada juga yang penuh liku. Kita tidak pernah tahu apa yang harus
mereka perjuangkan untuk dapat menutup wajahnya dengan cadar.
Tak jarang, pengorbanan dan air mata menghiasi perjalanan mereka,
wanita-wanita tangguh yang darinya saya banyak mengambil ibrah.
Kegigihan mereka mempertahankan niqabnya itulah yang membuat saya
bersemangat untuk mengikuti jejak mereka.
Apa lagi yang saya tunggu? Sampai kapan saya mau menunda? Sedang
kemudahan untuk menjalankannya ada di depan mata. Sungguh saya malu
dengan mereka yang karena niqabnya diuji, ditentang dan dimusuhi namun
tetap tegar berdiri.
Karena di hari ini, menegakkan sunnah adalah seperti menggenggam bara
api. Panas, tapi harus tetap digenggam agar tidak tergelincir dalam
kesesatan setelah hidayah itu datang menyapa.
Barakallaahu fiykunna, saudariku..
Semoga Allah memudahkan niat dan tekadmu untuk mengikuti jejak mereka
yang lebih dulu memilih jalan ini. Dan bagi yang sudah, semoga Allah
istiqamahkan kalian selalu..aamiin
“Wanita itu aurat, maka bila ia keluar rumah, syaithan terus
memandanginya (untuk menghias-hiasinya dalam pandangan lelaki sehingga
terjadilah fitnah).”
(HR. Tirmidzi)
Sumber : Facebook

Tidak ada komentar:
Posting Komentar