Aroma petrichor menguap bersama sisa hujan yang menggenangi kubangan
kecil wajah jalan bersirtu lepas. Tiga pasang kaki berjalan dalam diam
tanpa kata, langkah-langkah pendek namun intens terus memupuk setiap
jejak dengan dzikir.
Dua bola mata menatap ngeri, kuduknya merinding seolah dia baru melihat hantu.
"Hiiih teroris!" Suara itu lantang menggelegar, membawa kilatan pada kuping wanita-wanita bercadar di depannya.
Mata yang nampak dari wanita-wanita itu hanya bisa menciut dan menatap
kedua kaki mereka, seolah tak ada penafikan atas tuduhan keji yang
terlontar dari mulut tak bermoral.
Tidak, ada sepasang mata tajam
yang siap meledak dari balik bingkai bening. Seketika langkahnya
terhenti, dibaliknya badannya menuju sumber suara.
"Ibu bilang apa tadi? Bisa diulang?"
Kalimat lembut mengalir dari mulutnya yang tertutup kain kecil.
Terlihat jelas dia sedang menekan egonya dari suara lembut yang tegas sedikit gemetar.
Sang wanita paruh baya itu pun seperti ditangkap basah, wajahnya mengecil tanda dia gugup.
"Iiii ini bukan Arab Saudi dek! Ini Indonesia, jangan lebai lah." Dengan suara tercekat, akhirnya dikeluarkanlah curhatannya.
Gadis berkacamata itu pun mengulurkan tangannya.
"Assalamu'alaikum. Kenalan dulu bu."
Ibu itu tercengang, tak percaya dengan reaksi gadis di depannya.
"Assalamu'alaikum." Ulang gadis itu.
"Kenalkan, nama saya Nur. Kita ngobrol sambil duduk saja ya bu." Ucap gadis itu lagi.
Dua kawannya mulai resah.
"Kita terlambat nanti, ayok!" Ujar salah satu dari mereka.
"Ini penting, kalian duluan saja." Bisik gadis tadi pada dua temannya.
"Kenapa ibu bilang kami teroris? Jika seorang muslim memberi salam, wajib bagi yang mendengar untuk menjawabnya loh buk."
Ibu itu menatap dalam bimbang.
"Wa'alaikum salam. Kenapa memangnya? Salah ya kalau saya bilang teroris?" Sergahnya.
"Ibu lihat itu?" Gadis itu menunjuk seorang remaja putri bercelana
pendek dengan baju super ketat melintas di atas sepeda motornya.
"Bagaimana kalau, saya sebut dia Placur?"
Sang ibu melotot.
"Kamu itu bercadar kok kelakuan begitu. Mulutmu kok busuk?"
"Kenapa bu? Bukankah para WTS berpakaian begitu? Kenapa saya tidak boleh berkata begitu?"
"Tidak semua orang begitu. Emang kamu kenal? Emang kamu tau dia begitu?" Sang ibu merasa kesal.
"Begitu juga kami, ibu kenal kami? Apa kami pernah teror ibu? Apa kami pernah bom ibu?"
Ibu itu membisu bersama suara angin sepoi malam.
"Kenapa orang yang ikuti sunnah Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa
sallam dikatalan teroris? Kenapa orang yang ikuti sunnah kaum kufar,
ikuti sunnah wanita tuna susila tidak boleh disebut placur?
Karena tidak semua orang bisa dinilai dari penampilannya.
Ibu berkerudung karena apa?
Karena ibu beragama islam kan? Agama yang sama dengan saya, dan Islam
mengajarkan, menyuruh, mengajak ummatnya menutup aurat, baik lelaki
maupun perempuan. Hanya saja untuk perempuan ada yang disebut menutup
wajah dan telapak tangan. Itu tidak wajib bagi sebagian orang, bagi
sebagian dianggap wajib. Saya memilih yang tidak wajibkan tapi saya
amalkan. Kalau ibu pernah melihat di TV berita teroris disangkut pautkan
dengan islam, harusnya ibu kenali lebih dalam agama ibu agar tidak
mudah dibentuk oleh opini TV."
"Maaf ya nak. Saya memang tidak
paham agama, tapi saya merasa orang bercadar itu berlebihan." Suara sang
ibu tidak segarang tadi.
"Agama itu bukan tentang perasaan bu
tapi tentang taat Allaah dan Rasul-Nya. Ayo ikut saya kajian, in syaa
Allaah kita belajar bersama kenapa cadar itu bagian dari syariat islam.
Mungkin ada yang bercadar dan terlibat pemikiran sesat bom sana-sini, tapi islam tidak ajarkan itu."
"Terus bagaimana dengan orang yang kamu sebut placur tadi?"
"Itu kan hanya upamanya saja bu. Saya tidak berhak menjudge orang atau
menyebutnya dengan panggilan buruk hanya dari penampilannya. Begitu pun
ibu, tidak boleh sesuka hati menyamakan yang mungkin tampak sama. Islam
itu rahmatan lil alamin."
Hening, dua perempuan renta usia itu terdiam dalam jeda.
"Iya saya ngerti, maaf atas sikap saya tadi. Nama saya Ibu Nina." Sang ibu menjulurkan tangannya.
"Saya Nur. Iya bu dimaafkan. Maaf juga jika waktu ibu tersita." Jabatan tangan dan pelukan gadis itu mengakhiri sapaan malam.
Sumber : Facebook
Tidak ada komentar:
Posting Komentar